"Someday, when you can see again, I'll show you
every beautiful corner of the country I'm so proud of."
A Little Letter
My dearest Floria,
Forgive me for arriving without warning, and for leaving
just the same way. I never meant to turn myself into
something you'd have to chase across two shores.
I still remember the mornings your laughter drowned out
the gulls, and how certain you were that you could hear
the fae hiding behind my very ordinary friends. Five
years, and it still felt far too short.
I am sorry I could not keep my promise — to walk you
through every street of the country I once boasted
about, once your eyes could see it for themselves. That
promise was mine to break, and I broke it long before
you ever noticed I was gone.
And I am sorry, too, for what I must ask of you now.
Please, stop looking for me. It was never because I
stopped caring — it's because I care too much to let
you close enough to be hurt by what I truly am.
Little Details
Connaught Park, Dover
Apple Pie
27 / 07 / 1968
Suitcase Gramophone
Sweet Scar - Weird Genius
Likes
Singing together every morning, with old vinyl records playing on Arthur's suitcase gramophone.
Headcanons
Every July, Arthur finds his way to Floria's house and stays for a while, as though it has become a quiet little tradition between them.
Notes
Their vinyl collection sits on the top shelf, right
beside a stack of old letters from Dover.
Yume Album
Lore Utama
"Kamu menjadi seperti ini karena kesalahanku. Karena itu izinkan aku merawatmu hingga sembuh!"
Semua ini bermula ketika seorang gadis terkapar di pesisir pantai Prancis setelah terkena sengatan dari seseorang yang secara kebetulan tengah mencoba sihir barunya di tempat yang sama. Awalnya semua terlihat baik-baik saja hingga ketika sang gadis membuka matanya. Seluruh penglihatannya hanya memperlihatkan warna hitam pekat. Gadis itu telah menjadi buta sepenuhnya.
Merasa bertanggung jawab, pria yang bisa menggunakan sihir itu kemudian membawa gadis itu ke Inggris dan berniat merawatnya di sana. Ditambah, dia berjanji mengabulkan segala keinginan sang gadis tak peduli seberapa anehnya itu.
"Kalau begitu, aku ingin bisa melihat lagi."
Itu adalah satu-satunya permintaan yang tidak dapat pria itu kabulkan. Segala jenis sihir dia gunakan namun tetap tidak mempan. Tidak ada pilihan lain selain menunggu sampai ia benar-benar menguasai sihir terbarunya.
Meskipun gadis asal Prancis itu dibawa ke Inggris, pria itu bukan membawa sang gadis ke rumahnya. Namun, pria itu memberikan tempat penginapan khusus untuk sang gadis agar dia bisa mengunjunginya secara berkala. Bahkan meski dipenuhi kesibukan, pria itu tidak pernah sekalipun untuk absen maupun mengirim perwakilan. Jangankan itu, memberitahu seorang pun dia enggan. Dia tidak mau akibat dari keteledorannya melahirkan desas-desus 'Seorang Inggris telah melukai gadis dari Prancis’ atau sebagainya. Apalagi jika kabar itu sampai ke telinga rivalnya, mungkin akan panjang cerita.
Selain itu, dia juga tak pernah memberi tahu gadis yang dia tolong tentang jati dirinya yang sebenarnya.
"Kau bisa memanggilku Arthur." Ucapannya beriringan dengan nafas kecil yang bangga. Sang gadis menjawab singkat, "Florianne."
Hari-hari dipenuhi oleh mereka berdua. Suka duka mereka alami setiap harinya. Bahkan Floria yang sebelumnya cukup membenci Arthur karena membuatnya buta pun berubah pikiran sering waktu.
Arthur juga sering membawanya ke beberapa tempat di Inggris. Berkata dengan lantang bahwa dia akan menunjukkan keindahan negeri kebanggaannya itu pada Floria jika dia sudah bisa kembali melihat suatu saat nanti.
Walau mengalami kebutaan, sepertinya indera lain milik Floria menjadi lebih tajam. Dia bahkan mulai bisa mendengarkan suara para peri walau dirinya mengira suara itu berasal dari teman 'manusia' Arthur. Situasinya kemudian dijelaskan dan berkat hal itu Arthur selalu menceritakan para peri pada Floria, mengingat tak ada satupun orang lain yang mau mendengar ataupun mempercayai perkataannya.
Alih-alih timbul rasa cinta, perasaan Arthur pada Floria hanya sebatas rasa bersalah. Jika sihir pada Floria telah hilang, Arthur mungkin akan segera mengembalikannya ke Prancis dan dia akan kembali menjalani kehidupannya yang biasa.
Benar saja. 5 tahun berlalu hingga sihir yang membuat mata Floria tak berfungsi telah hilang bersama dengan keberadaan Arthur. Janji manis yang diberikan oleh pria itu pun tidak pernah tertunaikan. Floria pulang ke negaranya tanpa pernah melihat wajah pria itu.
Meski terlihat seperti orang yang kejam karena meninggalkannya, sebenarnya satu-satunya alasan Arthur meninggalkan Floria sebelum dia dapat melihat dirinya hanyalah agar Floria tidak menjadi gila diakibatkan oleh perbedaan timeline yang dialami oleh personifikasi negara dan manusia biasa jika mereka terus berdekatan. Floria yang sebelumnya buta tidak merasakan efek tersebut dikarenakan dirinya yang saat itu tidak dapat memperhatikan perubahan waktu secara langsung.
Diluar dugaan, Floria tidak menyetujui hal ini. Dia kembali berlayar ke Inggris untuk mencari pria itu. Dia bahkan tidak ragu untuk bolak-balik antar Inggris-Prancis agar dapat menemuinya lagi. Tapi bagaimana caranya menemukan seseorang yang bahkan dia pun tak tau wajahnya?
Tapi gadis ini begitu gigih. Hanya dengan bermodalkan ingatan suara dan bau, dia terus bertekad mencari pria itu. Dua tahun kemudian, dia berhasil menemukan Arthur di pesisir pantai Prancis, tepat dimana mereka pertama kali bertemu.
Sejak dibawa ke Inggris, Floria masih belum benar-benar menerima keadaan yang menimpanya.
Kehilangan penglihatan secara tiba-tiba membuat emosinya tidak stabil. Karena itu, Arthur cukup berhati-hati dalam memperlakukannya. Ia tidak ingin melakukan sesuatu yang membuat Floria semakin kesal.
Terutama memasak.
Sebenarnya, Arthur sendiri tidak terlalu pandai memasak. Namun hari itu, entah karena terlalu percaya diri atau ingin menunjukkan bahwa dirinya masih bisa berguna, ia memutuskan untuk membuatkan sesuatu untuk Floria.
Scone.
Hasilnya...
Mengenaskan.
Scone yang seharusnya berwarna keemasan justru berubah menjadi cokelat gelap hingga nyaris hitam. Bagian luarnya keras, beberapa sisinya gosong, dan aromanya pun sudah cukup untuk membuat seseorang mempertanyakan apakah benda tersebut masih pantas disebut makanan.
Arthur menatap hasil masakannya cukup lama.
"...Tidak buruk."
Entah bagaimana, ia benar-benar percaya diri.
Tak lama kemudian, Arthur membawa scone tersebut kepada Floria.
"Aku membuat sesuatu untukmu."
"Apa?"
"Scone."
Floria mengulurkan tangannya, tetapi Arthur justru mengambil satu potong.
"Jangan bergerak."
"Hm?"
"Aku akan menyuapimu."
Floria terdiam.
Mungkin Arthur memang sedang berusaha bersikap baik.
Ia akhirnya menurut.
Arthur mendekatkan scone itu ke mulutnya.
"Nah."
Floria membuka mulut dan menerima suapan pertama.
Arthur menunggu dengan ekspresi penuh keyakinan.
Floria mengunyah.
...
Diam.
Arthur tersenyum.
"Bagaimana?"
Floria masih mengunyah.
Rasanya keras.
Pahit.
Gosong.
Dan sama sekali tidak enak.
Namun yang membuatnya lebih kesal adalah ekspresi Arthur yang terdengar seolah-olah ia baru saja menyajikan makanan terbaik di Inggris.
Floria akhirnya menelan suapan itu dengan susah payah.
"..."
"Enak?"
Floria terdiam beberapa detik.
"Arthur."
"Ya?"
"Apakah kau sedang mengusiliku?"
Senyum Arthur langsung menghilang.
"Apa?"
"Ini gosong."
"Mustahil."
"Aku bisa merasakannya."
Arthur mengambil sepotong scone untuk dirinya sendiri dan menggigitnya.
...
Diam.
Wajahnya perlahan berubah.
Floria yang tidak dapat melihat ekspresinya hanya mendengar suara kunyahan yang semakin lama semakin pelan.
"Nah?"
Arthur menelan dengan susah payah.
"...Rasanya memang agak kuat."
"Agak?"
"Sedikit."
"Arthur."
"Ya?"
"Ini rasanya seperti batu."
Arthur tidak menjawab.
Floria mulai mengomel. Ia mengira Arthur sengaja memberikan makanan gosong kepadanya hanya karena tahu dirinya tidak dapat melihat.
"Kau pikir ini lucu?"
"Tidak!"
"Kalau kau ingin mengusiliku, katakan saja."
"Aku sungguh tidak mengusilimu!"
"Kalau begitu kenapa rasanya seperti ini?"
Arthur tidak memiliki jawaban.
Beberapa menit kemudian, Floria kembali terdiam.
Kali ini bukan karena kesal.
Tangannya perlahan berpindah ke perut.
"...Arthur."
"Hm?"
"Perutku sakit."
Arthur langsung menoleh.
"Jangan bilang..."
Wajahnya berubah panik.
Ternyata masalahnya bukan sekadar scone yang gosong.
Floria benar-benar keracunan.
"Arthur..."
"Tenang. Aku bisa mengatasinya."
"Kalau kau bilang bisa mengatasinya setelah memberiku makanan beracun, aku akan—"
Belum selesai mengomel, Arthur sudah menggunakan sihir detoksifikasi untuk menetralisir racun di tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, rasa mual dan sakit perut Floria perlahan menghilang.
Ia menghela napas panjang.
"...Aku membencimu."
Arthur menatap scone yang tersisa.
"...Aku juga mulai membenci scone."
"Bagus."
Sejak hari itu, Arthur belajar satu hal penting:
Memasak untuk orang lain membutuhkan kemampuan, bukan sekadar kepercayaan diri.
Dan Floria memperoleh satu aturan baru dalam hidupnya:
Jangan pernah mempercayai makanan buatan Arthur.
Malam demi malam, Arthur terus mencoba. Setelah memastikan Floria telah tertidur, ia pergi jauh dari penginapan, membawa catatan, buku-buku sihir, serta berbagai benda yang mungkin dapat membantunya. Ia mencoba sihir penyembuhan, pemulihan, bahkan mantra-mantra yang belum sepenuhnya ia kuasai. Cahaya berkali-kali memenuhi telapak tangannya, lingkaran sihir muncul di hadapannya, tetapi semuanya berakhir dengan kegagalan. Penglihatan Floria tetap tidak kembali.
Setiap kali kembali, Arthur selalu membawa sedikit harapan baru. Ia mengatakan bahwa ia menemukan cara lain, bahwa mungkin kali ini akan berhasil, hanya membutuhkan sedikit waktu lagi. Namun Floria mulai dapat mendengar keraguan di balik suaranya. Ia tidak dapat melihat wajah maupun ekspresinya, sehingga satu-satunya hal yang bisa ia jadikan pegangan hanyalah suara Arthur.
“Apakah mataku akan kembali?” tanyanya suatu malam.
Arthur terdiam sesaat sebelum menjawab, “Akan.”
Namun bagi Floria, jawaban itu perlahan kehilangan maknanya.
Hari demi hari berlalu tanpa perubahan. Kecemasan mulai memenuhi pikirannya. Terkadang ia marah, terkadang menangis, terkadang hanya duduk sendirian dalam keheningan, membenci ketidakberdayaannya sendiri. Dan pada saat-saat tertentu, ia juga membenci Arthur karena orang itulah yang membuatnya kehilangan penglihatan.
Arthur tidak pernah membalas kemarahannya. Ia hanya mendengarkan. Setelah itu, ia kembali mencoba.
Suatu malam, setelah Arthur kembali dari percobaannya, Floria akhirnya bertanya dengan suara yang lebih lemah dari biasanya.
“Arthur...”
“Ya?”
“Kau bisa melakukan apa saja dengan sihirmu.” Floria menundukkan kepalanya. “Lalu kenapa mataku adalah satu-satunya hal yang tak mampu kau sembuhkan?”
Arthur terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung memiliki jawaban.
Floria menggenggam ujung pakaiannya sendiri. Ia tidak sedang benar-benar marah. Yang terdengar dari suaranya justru rasa takut—takut bahwa kegelapan ini akan menjadi bagian dari hidupnya selamanya.
Namun Arthur tetap tidak menyerah.
Jika satu formula gagal, ia mencari formula lain. Jika kekuatan sihirnya tidak cukup, ia mencoba memperkuatnya. Jika tubuh Floria menolak suatu jenis sihir, ia mencari cara untuk mengubahnya. Bahkan ketika tubuhnya sendiri mulai kelelahan, ia tetap membuka buku-buku sihir dan mempelajari kembali setiap kesalahan yang telah ia lakukan.
“Kalau aku gagal lagi, apa yang akan kau lakukan?” tanya Floria suatu malam.
“Aku akan mencoba lagi.”
“Kalau gagal lagi?”
“Aku akan mencari cara lain.”
“Dan kalau cara itu juga gagal?”
Arthur terdiam sejenak.
“Kalau begitu...” katanya akhirnya, “aku akan mencari cara lain lagi.”
Floria tetap kecewa. Ia tetap cemas. Ia tetap takut bahwa dunia yang selama ini hanya bisa ia rasakan melalui suara, sentuhan, dan aroma tidak akan pernah kembali memiliki cahaya.
Namun Arthur tidak berhenti.
Setelah Floria tertidur malam itu, Arthur kembali membuka halaman baru di buku catatannya. Tangannya terasa berat, matanya lelah, dan hingga saat itu sihirnya masih belum memiliki jawaban.
Tetapi ia tetap menulis.
Satu kemungkinan lagi.
Lalu satu lagi.
Dan satu lagi.
Selama masih ada kemungkinan bahwa Floria dapat melihat kembali, Arthur akan terus mencarinya.
Seperti yang sudah-sudah, hariku hanya berisikan suara radio yang tidak pernah berhenti menyala.
“Hari ini, tanggal satu Juli …”
Oh ya. Sudah Juli lagi, ya?
Aku menarik selimutku, mempersiapkan diri dalam kesepian yang akan menyambut selama sebulan penuh. Sudah dua tahun sejak aku berakhir di sini, namun entah mengapa pria itu tidak pernah mengunjungiku setiap bulan Juli, padahal dia begitu rajin datang kemari setiap minggu.
---
Hari ini, Floria tidak akan menduga perubahan yang terjadi, ketika seseorang merangsek masuk ke rumahnya tanpa mengetuk pintu. Hanya dengan mengandalkan indera pendengarannya, Floria bisa mengetahui bahwa orang itu berjalan terhuyung-huyung. Dengan susah payah dia berlari menuju ruang tamu, untuk mendapati bau yang tidak asing di hidungnya. Bau Arthur dan ... amis dar*ah yang tajam.
Floria terlihat panik, namun tidak adanya respon dari Arthur membuatnya tidak tau harus melakukan apa. Sosok itu terdengar melangkah masuk lebih dalam, menuju kamar kosong yang memang biasa dia gunakan untuk beristirahat selama berkunjung ke rumah gadis itu.
"Kau, sepertinya salah tanggal." Floria yang penuh dengan rasa penasaran berdiri di depan pintu yang terbuka setengah. "Ini, bulan Juli." Floria mengingatkan. "Kukira kau tidak akan datang."
Ada keraguan di wajahnya. Di sisi lain dia sangat senang Arthur datang, namun di sisi lainnya dia merasa ada yang janggal. Terlebih kondisi Arthur yang membuatnya sedikit cemas.
"... Maaf. Aku hanya ingin kabur, jadi kupikir ini tempat yang cocok." Suara batuk terdengar nyaring di telinga Floria. Gadis itu mencoba membantu, namun upayanya ditolak.
"Abaikan saja kedatanganku."
Kini, gadis itu hanya terduduk di tempat tidurnya. Kamar mereka yang hanya dibatasi dinding tipis dapat membuatnya mendengar jelas apa saja yang terjadi di kamar sebelah. Arthur sedang sakit, tapi kenapa? Apakah ada alasannya dengan keabsenannya tiap bulan Juli?
Pada akhirnya, kondisi Arthur yang semakin parah memaksanya untuk meminta bantuan Floria. Gadis itu kalang kabut membantu, terlebih kondisinya yang tengah buta membuatnya sulit untuk bergerak cepat.
"Kalau aku tau aku akan dirawat begini di sini, aku pasti akan selalu datang tiap Juli," ucapnya tersenyum dengan darah yang masih tersisa di mulutnya.
"Biarkan mimpi-mimpiku terbasahi, Ombak malam, angin pantai, Oh, pendayung yang manis-"
Suara merdu berbahasa jepang melambai di telinga Floria saat dia duduk di taman kota yang tidak jauh dari rumahnya. Arthur yang berdiri di sampingnya, nampak jauh lebih menikmati lagu itu, mengingat pada kawan lama.
Sudah lama sekali gadis itu tidak tertarik pada musik. Dengan bantuan Arthur, mereka menemui penyanyi jalanan itu yang ternyata adalah pendatang dari Jepang. Antusias, wanita Jepang itu memberi mereka sebuah piringan hitam bertuliskan "Pendayung Manis" di tengahnya.
Dengan sedikit rengekan, Arthur pun membelikan gramofon modern masa itu dan mendengarkan lagu indah tadi bersama-sama.
Seperti biasa, Arthur pergi setelah memastikan semua kebutuhanku sudah terpenuhi. Dia tidak pernah tinggal terlalu lama di rumah ini. Biasanya dia hanya datang, menghabiskan beberapa waktu bersamaku, lalu pergi lagi ketika urusannya sudah selesai. Katanya dia akan kembali beberapa hari lagi, jadi aku hanya perlu menunggunya seperti biasa.
Namun, tetap saja rumah ini terasa jauh lebih sepi ketika dia pergi. Aku hanya duduk di ruang tengah sambil mendengarkan suara jam yang terus berdetak. Tidak ada suara lain yang bisa menemaniku selain suara radio yang sesekali menyala dan suara angin dari luar jendela.
Sampai kemudian aku mendengar suara kecil.
“Kasihan dia.”
Aku langsung menoleh.
“Arthur menyuruh kita untuk menjaganya.”
“Memangnya dia bisa mendengar kita?”
“Entahlah.”
Aku terdiam. Suara itu terdengar begitu dekat, tetapi aku tidak mengenali siapa pun yang berada di rumah ini.
“Kalian siapa?”
Suara-suara itu langsung berhenti.
Beberapa detik kemudian, seseorang menjawab dengan suara yang sangat kecil.
“Teman Arthur.”
“Arthur menyuruh kalian datang?”
“Iya.”
“Dia bilang apa?”
“Katanya jangan biarkan kau sendirian.”
Aku tersenyum kecil. Jadi, Arthur ternyata mengirim teman-temannya untuk menemaniku.
“Kalau begitu, terima kasih.”
“Dia bilang terima kasih!”
“Jangan berisik!”
“Maaf!”
Aku tidak bisa menahan tawa. Mereka terdengar seperti anak-anak kecil yang sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dariku.
Sejak hari itu, rumah yang biasanya sunyi mulai dipenuhi suara-suara kecil. Mereka terkadang berbicara denganku, terkadang hanya mengobrol satu sama lain. Sesekali mereka juga membantuku mencari benda yang terjatuh, meskipun beberapa kali benda itu justru dipindahkan ke tempat yang lebih sulit kutemukan.
Aku tidak pernah tahu berapa banyak dari mereka yang sebenarnya berada di rumah ini. Mereka juga tidak pernah memberitahuku nama mereka satu per satu. Aku hanya mengenali mereka dari suara.
Yang paling membuatku heran adalah suara mereka. Semuanya terdengar begitu kecil dan imut, seperti anak-anak yang belum cukup umur untuk berbicara dengan serius. Kadang-kadang mereka bertengkar karena hal-hal yang tidak penting, lalu beberapa menit kemudian sudah kembali bermain bersama.
Mereka juga senang sekali membicarakan Arthur.
“Arthur pernah membakar makanan sampai hitam.”
“Aku tahu.”
“Dia bilang itu memang seharusnya begitu.”
“Arthur memang bodoh.”
Aku tertawa. “Jangan bilang begitu pada Arthur nanti.”
“Kami tidak takut!”
“Bohong.”
“...Sedikit.”
Aku kembali tertawa.
Mungkin teman-teman Arthur memang aneh. Tapi setidaknya, mereka membuat rumah ini tidak terasa terlalu sepi.
Beberapa kali aku bertanya bagaimana mereka bisa masuk ke rumah tanpa pernah kudengar pintunya dibuka. Jawaban mereka juga selalu aneh. Ada yang bilang mereka memang sudah berada di sini sejak tadi, ada yang mengatakan mereka datang bersama angin, dan ada pula yang hanya tertawa ketika kutanya.
Aku akhirnya berhenti bertanya.
Bagiku, mereka hanyalah teman-teman Arthur yang kebetulan cukup unik.
Hari-hari setelah itu menjadi sedikit berbeda. Jika Arthur tidak datang, aku tahu akan ada suara-suara kecil yang menemaniku. Mereka bercerita tentang banyak hal, terkadang tentang Inggris, terkadang tentang Arthur, dan terkadang tentang hal-hal yang sama sekali tidak kupahami.
Aku mulai menyukai keberadaan mereka.
Mungkin karena setelah kehilangan penglihatanku, suara menjadi satu-satunya cara bagiku untuk mengenal seseorang. Dan suara mereka begitu mudah diingat.
Beberapa hari kemudian, Arthur akhirnya kembali.
Aku langsung mengenali langkahnya begitu dia masuk ke rumah. Bau yang sudah kukenal itu juga semakin dekat.
“Aku pulang.”
“Kau akhirnya datang juga,” kataku.
Arthur tertawa kecil. “Kenapa? Kau merindukanku?”
“Tidak juga.”
“Begitu?”
Aku mendengar dia meletakkan sesuatu di atas meja. Namun sebelum sempat berbicara lebih jauh, salah satu suara kecil terdengar dari arah yang tidak jauh dariku.
“Arthur sudah datang.”
“Diam.”
Aku tersenyum. “Teman-temanmu juga ada di sini.”
Arthur langsung diam.
Aku tidak mengerti kenapa.
“Teman-temanku?”
“Iya. Mereka yang biasanya datang kalau kau pergi.”
Arthur tidak langsung menjawab. Ada jeda yang cukup lama sampai aku mulai merasa aneh.
“Mereka mengatakan kau menyuruh mereka menjagaku.”
“...Mereka mengatakan begitu?”
“Iya.”
Arthur terdengar menarik napas.
“Kau bisa mendengar mereka?”
Aku mengernyitkan dahi. “Tentu saja.”
“Sejak kapan?”
“Beberapa hari yang lalu.”
Untuk beberapa saat, Arthur tidak mengatakan apa-apa. Aku tidak bisa melihat wajahnya, tetapi dari suaranya aku tahu dia sedang memikirkan sesuatu.
“Aneh,” gumamnya.
“Apa yang aneh?”
“Tidak apa-apa.”
Aku mendengus. “Jangan bilang aku berhalusinasi.”
“Bukan begitu.”
“Dulu kau juga pernah bilang teman-temanmu bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan manusia.”
“Ya.”
“Jadi, aku hanya menganggap mereka teman-temanmu yang aneh.”
Arthur kembali diam.
Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Yang kutahu, setelah hari itu dia justru lebih sering bercerita tentang teman-temannya kepadaku. Tentang tempat-tempat yang mereka sukai, hal-hal yang mereka lakukan, dan berbagai cerita aneh yang kadang membuatku tertawa.
Aku tidak pernah tahu kenapa Arthur terlihat begitu senang ketika mengetahui aku bisa mendengar mereka.
Mungkin karena akhirnya ada seseorang yang mau mendengarkan cerita tentang teman-temannya tanpa menganggapnya aneh.
Aku sendiri tidak terlalu memikirkannya.
Aku hanya berharap suatu hari nanti, ketika penglihatanku sudah kembali, aku bisa melihat seperti apa teman-teman Arthur itu.
Entah seperti apa wajah mereka, aku juga tidak tahu. Tetapi dari suara mereka, aku membayangkan anak-anak kecil yang lucu dan suka bermain-main di sekitar rumah.
Aku ingin sekali melihat mereka.
Dan kalau suatu hari nanti aku benar-benar bisa melihat lagi, mungkin hal pertama yang akan kulakukan adalah mencari mereka.
Aku ingin tahu seperti apa wajah teman-teman kecil Arthur yang selama ini menemaniku ketika dia pergi.
Sudah hampir dua tahun sejak terakhir kali Floria melihat Arthur. Setelah penglihatannya kembali, pria itu menghilang begitu saja tanpa memberikan kesempatan sedikit pun baginya untuk melihat wajahnya. Tidak ada pesan, tidak ada salam perpisahan, bahkan tidak ada penjelasan mengenai ke mana dia pergi.
Awalnya Floria mengira Arthur hanya sedang sibuk dan akan kembali seperti biasanya. Namun hari demi hari berlalu tanpa kabar. Pada akhirnya, Floria memutuskan untuk mencarinya sendiri.
Dia kembali ke tempat-tempat yang pernah mereka datangi bersama. Dia mendatangi penginapan tempat Arthur biasa mengunjunginya, berkeliling ke beberapa kota di Inggris, bahkan beberapa kali kembali ke Prancis hanya untuk mencari kemungkinan bahwa Arthur sudah berada di sana.
Namun tidak ada hasil.
Floria sendiri tidak tahu berapa kali dia sudah melakukan perjalanan antara Prancis dan Inggris. Yang dia tahu, dia masih ingin bertemu dengan Arthur. Setidaknya sekali saja.
Sampai suatu hari ketika dia beristirahat di bangku taman pada sebuah daerah di Britania, suara pria dewasa mengagetkannya. Dia berbalik menemukan pria dengan rambut pirang bergelombang tengah duduk di ujung bangku yang sama. Floria tidak pernah ingat ada orang lain.
"Kamu terlihat kelelahan, nona. Apa yang membuatmu kemari jauh-jauh dari Prancis?"
Floria tertegun. Dia tak ingat pernah memberitahu apapun, dan seseorang di depannya ini seolah tau semuanya.
"Wajahmu, kamu orang Prancis." Klarifikasi singkat dari pria tua itu membuatnya lega.
Sesaat, semuanya hening. Mereka berpikir bahwa masing-masing adalah orang asing yang tidak perlu membicarakan apapun, namun rasa penasaran pria itu meretakkan kesunyian diantara mereka.
"Apa yang membuatmu kemari jauh-jauh dari Prancis?"
Pernyataan itu kembali berulang. Floria yang merasa tidak nyaman, pun menceritakan tujuannya.
Begitu mendengar nama Arthur, mata pria itu melebar sesaat, ekspresi mikro itu ketahuan.
"Apakah kamu mengenalnya? Orang itu."
Pria itu hanya tersenyum, "Ya. Ngomong-ngomong, namaku Francis."
"Aku tidak perlu tau namamu. Bisakah kamu memb—"
Suara tepuk dari telapak tangan Francis yang mendarat di pucuk kepala Floria membekukannya.
"Aku tidak tau apa yang telah terjadi diantara kalian, tapi keputusannya sudah benar. Dan kalian tidak seharusnya bertemu lagi."
Gadis itu segera menepis tangannya. Kekesalan dan keingintahuan mendorongnya untuk bertanya kembali, namun pria itu sudah berdiri. Tidak mengatakan apapun, dan menghilang begitu cepat.
"Datang dan pergi tiba-tiba, sama saja seperti dia."
Sudah dua tahun sejak terakhir kali Floria melihat Arthur. Selama itu pula dia terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, berharap suatu hari bisa menemukan pria yang menghilang tepat ketika dia akhirnya bisa melihat.
Malam itu, Floria kembali berada di tempat pertama kali mereka bertemu. Tidak ada alasan khusus. Dia hanya sedang ingin menenangkan pikirannya setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Pantai itu terasa jauh lebih tenang pada malam hari. Angin laut yang dingin berembus pelan, suara ombak terdengar dari kejauhan, dan langit yang dipenuhi bintang membuat pikirannya sedikit lebih ringan.
Floria duduk di dekat pantai, membiarkan kakinya menyentuh pasir yang dingin. Sudah delapan tahun sejak kejadian itu, tetapi tempat ini masih terasa familiar. Dia tidak menyangka akan kembali ke sini setelah sekian lama.
Sampai suara seseorang terdengar tidak jauh darinya.
Floria menoleh.
Seseorang sedang mengucapkan sesuatu dengan suara rendah. Dia tidak bisa melihat dengan jelas dari tempatnya, tetapi suara itu terdengar seperti seseorang yang sedang merapal mantra. Ada beberapa kata yang tidak dia mengerti, disusul suara angin yang tiba-tiba bergerak lebih kuat.
Floria membeku.
Suara itu.
Dia sudah mendengarnya selama bertahun-tahun. Bahkan ketika matanya masih tidak dapat melihat, suara itulah yang selalu dia gunakan untuk mengenali seseorang.
Floria segera berdiri dan berjalan mengikuti sumber suara tersebut. Jantungnya berdegup semakin cepat, sementara pria di kejauhan itu perlahan menghentikan mantranya. Dia juga sepertinya menyadari ada seseorang yang mendekat.
Keduanya sama-sama terdiam ketika akhirnya saling berhadapan.
Arthur tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya di tempat ini. Sementara Floria hanya bisa menatap pria di hadapannya, mencoba memastikan bahwa suara yang selama ini dia cari memang benar-benar berasal darinya.
Tidak ada yang langsung mengatakan apa-apa.
Rasa terkejut itu terlalu besar, tetapi entah bagaimana rasa lega jauh lebih cepat menutupinya.
“...Arthur?”
Pria itu terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Florianne.”
Suara itu masih sama.
Floria menatapnya cukup lama. Selama bertahun-tahun, dia hanya bisa membayangkan seperti apa wajah pria yang selalu datang menemuinya. Sekarang, untuk pertama kalinya, dia bisa melihat sendiri orang yang selama ini hanya dikenalnya melalui suara.
Rambutnya tidak seperti yang pernah dia bayangkan. Wajahnya juga berbeda dari bayangan yang selama ini ada di kepalanya. Namun suara itu tidak pernah berubah.
“Jadi begini rupamu selama ini.”
Arthur tertawa kecil. “Kau kecewa?”
“Sedikit.”
“Begitu?”
Floria ikut tersenyum. “Aku membayangkanmu lebih tua.”
Arthur terdiam beberapa saat sebelum tertawa pelan. Dia sendiri hampir lupa bahwa bagi Floria, waktu selama delapan tahun seharusnya mengubah banyak hal.
Namun malam itu bukan waktunya memikirkan hal tersebut.
Arthur berjalan mendekat. Tangannya terangkat perlahan, seolah masih ragu apakah dia benar-benar boleh menyentuhnya setelah menghilang selama dua tahun. Pada akhirnya, telapak tangannya hanya menyentuh kepala Floria seperti kebiasaannya dulu.
Floria tidak menepisnya.
Dia justru menundukkan kepala sedikit, membiarkan tangan itu tetap berada di sana.
“Kau mencariku selama ini?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Floria mengangkat wajahnya. “Karena kau pergi tanpa mengatakan apa-apa.”
Arthur tidak menjawab.
“Aku mencarimu di Inggris. Aku juga kembali beberapa kali ke Prancis. Aku bahkan bertemu orang aneh yang mengenalmu.”
Arthur langsung tahu siapa yang dimaksud.
“Francis?”
“Jadi kau tahu?”
Arthur menghela napas kecil. “Tentu saja.”
Floria menatapnya lagi. Ada banyak pertanyaan yang masih ingin dia tanyakan. Ada banyak hal yang belum dia mengerti sejak hari Arthur pergi. Namun setelah akhirnya menemukan orang yang selama ini dia cari, untuk sementara waktu dia tidak ingin memikirkan semuanya.
“Aku senang akhirnya menemukanmu.”
Arthur terdiam.
Kemudian senyum kecil muncul di wajahnya.
“Aku juga.”
Malam itu, mereka akhirnya duduk kembali di tempat yang sama seperti delapan tahun lalu. Bedanya, kali ini Floria bisa melihat laut, langit, dan pria yang selama bertahun-tahun hanya bisa dia kenali melalui suaranya.
Arthur juga akhirnya bisa memenuhi janji yang pernah dia ucapkan.
Dia membiarkan Floria melihatnya.